Jumat, 30 September 2016

[Resep] Chicken Nugget

Chicken  nugget  adalah salah satu menu yang suka sekali saya bikin. Ya alasannya simpel aja sih, karena sekali bikin bisa buat stok beberapa hari, hehe

Beberapa kali nyoba resep, akhirnya nemu resep yang jadi favorit. Ini nemu resep mb Diah Didi tapi dimodif dikit :D

Kali ini saya pakai 2 butir telur untuk adonan. Biasanya sih pakai satu aja. Kalau pakai satu telur, tepung panir dan tapiokanya pakai dua sendok aja.

Pelapisnya jangan lupa pakai tepung terigu sebelum digulingkan ke telur. Kata mba Diah Didi sih biar pelapisnya lebih nempel.

Yaudah simak yuk resepnya.

Bahan:
1/2 kg dada ayam cincang halus
2 butir telur
3 siung bawang putih, digoreng lalu haluskan
3 sdm tepung panir
3 sdm tepung tapioka
secukupnya wortel parut (boleh skip atau ganti sayuran lain)
secukupnya garam
secukupnya lada bubuk

Pelapis:
Tepung terigu
Telur
Tepung panir

Cara membuat:
1. Campur semua bahan, aduk sampai rata.
2. Masukkan ke wadah lalu kukus sekitar 20 menit.
3. Angkat, lalu biarkan dingin.
4. Potong-potong nugget sesuai selera.
5. Gulingkan nugget pada tepung terigu, lalu telur, lalu tepung panir.
6. Ulangi hingga habis, masukkan freezer atau bisa langsung digoreng.

Kamis, 29 September 2016

Wang-Sinawang

Tulisan tentang wang-sinawang sebenarnya sudah pernah saya tulis di blog lama saya. Tapi kali ini saya ingin menuliskannya kembali.

Wang-sinawang berasal dari bahasa jawa, sawang yang artinya melihat. Wang-sinawang, saling melihat.

Seorang ibu bekerja mendengus kesal, iri melihat ibu rumah tangga yang dengan santainya menikmati hari tanpa diburu pekerjaan. Enak ya jadi ibu rumah tangga, nggak harus bangun pagi karena macet, bisa kumpul terus sama anak 24 jam, bisa bikin banyak variasi makanan buat keluarga.

Seorang ibu rumah tangga menatap sedih tetangganya yang menjadi ibu bekerja. Enak ya jadi ibu bekerja. Nggak melulu ngurusin rumah, denger anak nangis seharian, urusannya cuma anak sama dapur doang.

Seorang pejabat memandang orang-orang yang asik ngopi di angkringan, dari balik kaca mobilnya. Asiknya jadi rakyat biasa. Kemana-mana tidak perlu pengawalan, ngopi sambil angkat kaki, merokok. Enak sekali.

Orang-orang yang sedang nongkrong di angkringan berdecak kagum pada rombongan pejabat yang lewat. Enaknya jadi pejabat. Kemana-mana pakai mobil, baju bagus, makan pasti enak-enak. Tidak seperti kita yang tiap hari makan nasi kucing.

Memang benar kata orang, rumput tetangga selalu tampak lebih hijau. Kita selalu mengeluh tidak mempunyai rumput sehijau milik tetangga. Kita tidak sadar, bahwa dari awal kita memang tidak menanam rumput. Kita menanam bunga-bunga warna-warni dan mencabuti rumput yang tumbuh di sela-selanya. Kita lupa untuk melihat apa yang kita miliki. Padahal bisa jadi, tetangga sedang berdecak kagum pada bunga-bunga yang kita tanam. Sedih karena halamannya tak subur ditanami bunga. Hanya rumput yang mau tumbuh di atasnya.

Hati-hati jika sudah terbiasa melupakan apa yang kita miliki. Pada akhirnya kita akan terjerumus pada kufur nikmat, tidak mensyukuri apa yang kita miliki. Hati akan selalu lelah dan tidak tenang karena selalu memikirkan keberhasilan orang lain. Hentikan. Hentikan kebiasaan seperti itu dan mulailah untuk selalu bersyukur dan bersabar. InsyaaAlloh hidup akan lebih barakah dan tenang.

Senin, 26 September 2016

Menjaga Kehalalan Makanan

Rasulullah saw bersabda:
"Hai Ka'ab bin 'ujrah, ingatlah bahwa daging yang tumbuh dari barang kotor itu lebih layak untuk masuk neraka!" (HR. At-Tirmidzi, beliau berkata 'hadits ini hasan gharib')

Seorang guru pernah mengisahkan tentang ibunda Imam Syafi'i yang begitu menjaga kehalalan makanan yang dimakan oleh keluarganya. Pada suatu hari, Imam Syafi'i kecil sedang ditinggal sendiri dirumahnya, karena ibunya pergi sebentar. Saat ibunya pergi, Imam Syafi'i menangis. Tetangganya yang kebetulan sedang menyusui merasa iba. Akhirnya ia menyusui Imam Syafi'i. Sepulangnya ibu Imam Syafi'i kerumah, ia melihat raut muka Imam Syafi'i kecil agak berbeda. Setelah tahu ada tetangga yang menyusui anaknya, ibunda Imam Syafi'i  lantas membalik tubuh Imam Syafi'i dan menggoncang tubuhnya hingga apa yang ia minum tadi keluar semua. Ini karena ibu Imam Syafi'i khawatir ada makanan yang tidak halal yang terkandung dalam air susu tetangganya yang kemudian diminum Imam Syafi'i.

Begitulah, ibunda Imam Syafi'i paham bahwa air susu yang masuk ke dalam tubuh anaknya akan mempengaruhi watak anaknya. Begitupun makanan yang lainnya, kehalalannya akan berpengaruh pada perilaku orang yang memakannya.

Di zaman sekarang yang sudah semakin banyak jenis makanan baru, harusnya kita bisa lebih berhati-hati memilihnya. Banyak makanan yang di kirim dari negara luar yang mayoritas penduduknya non-muslim. Hati-hati, jika belum ada penjamin halalnya. Yah amannya sih, nyari produk yang sudah ada halal MUInya. Seperti beberapa waktu lalu, sempat ramai tentang salah satu Mie dari Korea. Beberapa teman saya bahkan mengunggah fotonya dengan bahagia karena dapat mie langsung dari Korea, dikirim teman atau saudara yang kebetulan sedang berada di sana. Ada pula seorang teman yang mengunggah foto habis makan mie itu, lalu diingatkan temannya tentang kehalalannya. Si dia dengan entengnya komen 'belum nemu sih yang ada halal MUInya. Kalau kamu nemu, kasih tahu ya.' Lho, berarti tadi waktu dia makan, tidak mempedulikan status halalnya dong? Saya sendiri tidak tahu apakah mie tersebut halal atau tidak, bahkan melihat langsungpun tidak pernah. Tapi menurut saya, ada baiknya diteliti dan dipastikan dulu bahwa produk itu halal mengingat itu buatan dari tempat yang mayoritas non muslim. Sampai akhirnya di beranda FB saya, ada tulisan mengenai ada dua produk Mie tersebut yang di produksi dengan peralatan yang berbeda. Yang satu halal, ada tanda halal dari Majelia Ulama Korea. Khusus diedarkan ke Malaysia dan Indonesia. Sedangkan yang tidak berlabel halal itu berarti tidak halal. Wallahu a'lam, saya tidak tahu yang mana pastinya. Yang jelas, jangan asal makan apalagi produk baru yang kita tidak paham asalnya.

Saat menjadi pembelipun, jangan malu untuk bertanya jika ragu.
"Yang ini bahannya halal kan pak?"
Dulu saat di Jogja, ada salah satu tempat es krim yang sedang ramai dikunjungi mahasiswa. Varian rasanya banyak dan rasa buahnya asli banget. Enak. Suatu hari teman saya bertanya di akun media sosial penjual es krim tersebut apakah produknya halal?
Dan jawabannya membuat shock karena saya dan teman-teman sempat beli es krim di tempat itu.
"Halal mba, kecuali satu varian (apa saya lupa, dan alhamdulillah bukan yang kami pesan. semoga Alloh mengampuni kami). Nanti ditanyakan saja mba sama yang jaga mana yang tidak halal."
Astaghfirullah. Kesalahan saya dan teman-teman adalah tidak bertanya soal kehalalan waktu pertama datang. Padahal es krim kan termasuk produk yang rawan sekali menggunakan bahan yang tidak halal.

Maka berhati-hatilah, saat memilih makanan untuk diri sendiri dan untuk keluarga. Saat membelikan jajan untuk anak, membelikan camilan untuk suami, cek benar-benar kehalalannya. Jangan sampai Alloh tidak menerima doa kita karena makanan yang kita makan tidak halal.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda, "Saudara-saudara sekalian, sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman sebagaimana perintah-Nya kepada Rasul. Dia berfirman "Wahai para Rasul, makanlah dari apa yang baik-baik, dan beramal shalihlah. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui atas apa yang kalian perbuat." Sebagaimana Dia juga berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, makanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami rezekikan kepadamu."
Kemudian beliau mengisahkan tentang seorang lelaki yang sedang menempuh perjalanan jauh, rambutnya kusut masai dan kedua kakinya berdebu. Ia menengadahkan kedua tangannya ke arah langit seraya berkata, "Ya Rabbi... Ya Rabbi..."
Namun makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia dibesarkan dari barang yang haram. Lantas bagaimana mungkin doanya akab terkabulkan?" (HR. Muslim dan At-Tirmidzi)